
Ancaman gempa megathrust yang berpotensi memicu tsunami di pesisir selatan Jawa Barat menjadi perhatian serius berbagai pihak. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi lintas sektor, BPBD Provinsi Jawa Barat menggelar Gladi Penanggulangan Bencana Tsunami Megathrust Tahun 2026 di UPTD PPP LLASDP Provinsi Jawa Barat, Senin (25/5). Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, dan diikuti sekitar 200 peserta dari unsur pemerintah, TNI, POLRI, BMKG, BNPB, relawan, hingga organisasi komunikasi kebencanaan.
Dalam sambutannya, Teten Ali Mulku Engkun menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi tsunami megathrust di Jawa Barat, mulai dari peringatan dini, evakuasi, hingga penanganan darurat agar respons dapat berjalan cepat dan terpadu. Kegiatan gladi ini dilaksanakan selama dua hari sebagai upaya memperkuat kapasitas penanggulangan bencana di wilayah pesisir selatan Jawa Barat.
Pada sesi materi, Sandy Nur Eko Wibowo dari BMKG memaparkan potensi ancaman gempa subduksi megathrust di wilayah selatan Jawa Barat, termasuk estimasi tinggi gelombang tsunami mencapai 10–25 meter dengan waktu tiba sekitar 9–42 menit setelah gempa terjadi. Sementara itu, Ario Akbar Lomban dari BNPB menyoroti pentingnya Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB), kepemimpinan saat krisis, serta percepatan koordinasi pada masa golden time penyelamatan korban.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi gladi ruang atau Table Top Exercise (TTX) yang melibatkan seluruh peserta lintas sektor. Simulasi membahas skenario peringatan dini, evakuasi masyarakat, penetapan status tanggap darurat, aktivasi SKPDB, hingga masa pemulihan pascabencana. Kegiatan akan dilanjutkan pada hari kedua dengan agenda gladi posko atau Command Post Exercise (CPX) guna menguji kesiapan koordinasi dan pengambilan keputusan antarinstansi dalam penanganan darurat bencana tsunami megathrust.
Penulis: Alya Hanifah



