17
August

Apa Itu Jawa Barat Resilience Culture Province JRCP

Written by 

Apa Itu Jawa Barat Resilience Culture Province (JRCP)

 

Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki kontekstual topologi dan sosio ekologi yang beragam serta memiLiki jumlah penduduk tertinggi di Indonesia. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh Provinsi Jawa Barat menjadikan wilayah Jawa Barat kaya akan pusat-pusat perkembangan baik industri, perdagangan, moda transportasi, pendidikan dan juga sebagai kota wisata yang menjadi magnet para turis baik dalam maupun luar negeri.

Di balik keragaman alarm dan keunggulannya, Jawa Barat memiliki beragam ancaman bencana baik alarm, maupun non-alam. Hampir semua bencana yang ada di Indonesia terjadi di Jawa Barat, termasuk ancaman bencana masa depan, di antaranya gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir dan tanah longsor, kekeringan dan kebakaran, puting beliung, kegagalan teknologi dan kejadian luar biasa (endemik), bencana perlahan (silent killer), seperti penurunan tanah (land subsidence), kenaikan muka air laut (sea level rise), rob, dan kerusakan akuifer.

Kejadian bencana di Jawa Barat dari tahun 2013 sampai tahun 2018 memperlihatkan peningkatan, terutama dari tahun 2016 sampai tahun 2018. Total kejadian bencana di Jawa Barat dari tahun 2013 hingga tahun 2018 tercatat sebanyak 6.607 kejadian. Pada tahun 2013 tercatat 1.268 kejadian, tahun 2014 tercatat 835 kejadian, tahun 2015 tercatat 532 kejadian, tahun 2016 tercatat 1.100 kejadian, tahun 2017 tercatat 1.311 kejadian, dan tahun 2018 sebanyak 1.561 kejadian. Jenis bencananya didominasi oleh longsoran tanah, kebakaran, dan banjir.

Berdasarkan catatan Indek Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2013, wilayah Jawa Barat mencatat skor 166, termasuk kelas berrisiko tinggi bencana. Bahkan daerah Kabupaten/Kota yang menjadi peringkat tertinggi nasional (1-5) menurut risiko bencana berada di wiLayah Jawa Barat, yakni Cianjur (peringkat 1), Garut (peringkat 2), Sukabumi (peringkat 3), dan Tasikmalaya (peringkat 5).

Pemerintah Jawa Barat sebagai regulator juga stakeholder kebencanaan, tidak bisa memandang sebeLah mata terhadap ancaman bencana yang sewaktu-waktu terjadi. Oleh karena itu, Pemerintah Jawa Barat menyusun sebuah dokumen hidup (living document) yang ditujukan untuk merestrukturisasi pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap bencana, sehingga timbul kesadaran, pengetahuan, dan kemandirian dalam menghadapi potensi-potensi ancaman bencana di masa yang akan datang.

Jawa Barat Resilience Culture Province (JRCP) menggambarkan karakteristik ancaman bencana, regulasi, program/kegiatan, strategi dan pendanaan alternatif serta indikator- indikator penilai (indeks) yang menguatkan ketangguhan masyarakat Jawa Barat. Dalam dokumen ini dimasukkan kata “budaya” yang berarti akar inti dokumen ini juga mengambil dan mewariskan pengetahuan-pengetahuan baik yang telah dimiliki oleh para leluhur di Jawa Barat daLam menghadapi bencana. Kearifan Lokal ditelaah dipadupadankan dengan kemajuan teknologi menjadikan dokumen berkembang dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan zaman.

Jawa Barat Resilience Culture Province (JRCP) mencakup seluruh fase dalam siklus penanggulangan bencana, mulai prabencana, yaitu pencegahan dan mitigasi serta kesipasiagaan. Pada saat becana terjadi yaitu tanggap darurat, dan pascabencana yaitu tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Dokumen cetak biru ini bersifat sebagai pelengkap bagi dokumen penanggulangan bencana yang ada di Jawa Barat, berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan penanggulangan bencana secara umum, yang selanjutnya diterjemahkan dalam Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Dokumen JRCP telah ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 1 tahun 2020 tentang Peningkatan Kapasitas Budaya Masyarakat Tangguh Bencana di Daerah Provinsi Jawa Barat.

 

Risiko Bencana di Jawa Barat

Jawa Barat memiliki bergaman ancaman bencana yang tersebar di berbagai wilayah. Karakteristik fisik wilayah yang variatif membentang dari pantai utara, pegunungan dan bukit di bagian tengah, hingga pantai selatan memberi keunikan di masing-masing wilayahnya. Jawa Barat memiliki setidaknya tiga sesar aktif utama yang berpotensi menimbulkan gempa bumi, yaitu sesar lembang, sesar cimandiri, dan sesar baribis. Terdapat pula tujuh gunung api aktif yang berpotensi erupsi. Megathrust di selatan Pulau Jawa berpotensi menimbulkan tsunami di pantai selatan ketika terjadi aktivitas tektonik yang besar. Curah hujan yang tinggi seringkali mengakibatkan banjir, bahkan di beberapa wilayah dengan kelerengan yang tinggi menimbulkan longsor. Dampak perubahan iklim juga berpengaruh terhadap kenaikan muka air laut dan rob, khususnya di pesisir pantai utara.

Variasi wilayah yang terdiri dari rural, urban, hingga metropolitan juga memberi perbedaan karakteristik masyarakat dalam memahami risiko bencana. Dalam skala IRBI (Indeks Risiko Bencana Indonesia), Jawa Barat memiliki skor 166 yang tergolong dalam kelas tinggi, bahkan 20 dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat tergolong risiko tinggi (BNPB, 2013).

 

Read 506 times Last modified on Monday, 17 August 2020 11:11
Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Alamat BPBD Jabar

  • Jalan Soekarno Hatta No. 629, Bandung
  • Telp. 022 -7313267 | 022 - 7310952
  • Fax. 022 - 7315274
  • Email: bpbdprovjabar@gmail.com

Peta Lokasi BPBD Provinsi Jawa Barat

Pengunjung Website